Naratoday.com – Pengamat politik Heru Subagia menyoroti pentingnya bangsa Indonesia meninjau kembali perjalanan sejarah nasional secara lebih objektif dan menyeluruh.
Ia menilai, banyak tokoh yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan justru terpinggirkan akibat perbedaan pandangan politik dan kekuasaan.
Menurut Heru, dalam proses pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terdapat beragam tokoh dengan kontribusi besar mulai dari perjuangan bersenjata, pembentukan administrasi pemerintahan, hingga diplomasi internasional.
Namun, sebagian dari mereka kemudian dicap sebagai pembangkang atau separatis karena perbedaan ideologi.
“Misalnya, sosok yang memiliki semangat kemandirian bangsa dan penolakan terhadap penjajahan. Namun, karena perbedaan aliran politik dan kepentingan internasional, ia akhirnya dicap sebagai separatis dan berakhir tragis,” ujar Heru.
Ia juga menyinggung tokoh kiri yang dikenal heroik dan berpengaruh dalam perjuangan daerah. Namun, perbedaan pandangan politik membuatnya bernasib serupa terpinggirkan dari narasi besar sejarah nasional.
Heru menilai, kondisi serupa juga dialami oleh tokoh-tokoh yang berpemikiran kiri atau sosialis.
Meski turut memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan sosial, mereka seringkali dilenyapkan dari catatan sejarah resmi karena dianggap bertentangan dengan arus politik yang dominan.
“Sudah saatnya kita melihat sejarah dengan sudut pandang yang lebih bijaksana dan normatif, tanpa prasangka ideologis. Sejarah bangsa harus dieksplorasi dengan menghormati semua pihak yang berjuang baik di tingkat daerah maupun nasional,” tegasnya.
Heru menutup dengan ajakan agar pemerintah dan masyarakat membuka ruang dialog sejarah yang lebih inklusif, agar perjuangan para tokoh bangsa tidak dilupakan hanya karena perbedaan politik.***












